Menatap Senja

Awal kuinjakkan kaki di Bumi Panrita Lopi
Tinggi harapan bak Gunung Bawakaraeng
Kususuri jalan berbatu dan berdebu
Meski tak tau di mana akhir perjalananku

Puluhan tahun aku berpijak di Bumi Ammatoa
Sekian lama pula aku merasakan pahit getirnya dunia
Asinnya garam dan pahitnya mengkudu
Menjadi bagian dari luasnya curahan cahaya sang mentari

Kehidupan yang kulalui tidaklah mudah
Kucoba terus berjalan naik laksana menaiki tangga Titik Nol
Terkadang kubutuh helaan nafas panjang
Yang mengantarkan aku ke puncak Pua Janggo

Ya…itulah dunia yang fana
Yang tak memilih siapa yang mendiaminya
Yang siap menelan siapapun di atasnya
Yang selalu berbagi rezki halalnya

Tak mampu kuhitung rahmatMu ibarat pasir di Pantai Bira
Berharap ia takkan putus hingga tutup usia
Kutenangkan diri setenang Ere Manerang
Dan marasakan kesejukan air Lembah Biru
Hingga kutatap senja di bawah langit jingga BuluPadido

By Dhevi Trisnawati, S.Pd.